Wacana Gubernur Laiskodat Siswa SMA Masuk Jam 5 Pagi, Warga Lembata : Urus Tanam Kelor Dulu

Bagikan Artikel
Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat, S.H., M.Si bersama Wakil Gubernur Drs. Josef Nae Soi, M.M.|| Dok. nttmediaexpress.com

LEMBATA, NTT EXPRESS – Sejumlah orangtua siswa di Kabupaten Lembata meminta Gubernur NTT Viktor Laiskodat untuk menuntaskan sejumlah program yang dianggap gagal, ketimbang membangun wacana mewajibkan siswa SMA masuk sekolah jam 05.00 pagi.

Program-program tersebut di antaranya tanam kelor, tanam jagung panen sapi (TJPS) dan program wajib bahasa Inggris, yang dinilai gagal total. Untuk itu Viktor Laiskodat diminta fokus pada hal ini.

“Urus dulu program tanam kelor dan program tanam jagung panen sapi saja. Urus pendidikan itu tidak asal duduk lalu buat konsep, tapi turun ke tengah masyarakat supaya tau bagaimana suka dukanya,” kata Andi Lasar, warga Lembata pada Senin (27/2/2023) menyoroti kebijakan Gubernur Viktor Laiskodat ini.

Sebelumnya Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat berkunjung ke Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Senin (27/2 ), mengeluarkan wacana kontroversi mewajibkan siswa SMA masuk sekolah jam 05.00 pagi. 

Andi mengatakan, Gubernur NTT mengeluarkan wacana kontroversi ini di tengah gagalnya sejumlah program Pemerintah Provinsi NTT dibawah komando Gubernur Laiskodat.

Dia mencontohkan beberapa agenda penanaman perdana kelor yang dilakukan Gubernur Laiskodat di sejumlah tempat di Lembata seperti di Desa Nilanapo, kini tidak hilang tidak berbekas.

Tidak hanya itu, Peraturan Gubernur NTT Nomor 56 Tahun 2018 Tentang Hari Berbahasa Inggris yang dikeluarkan Gubernur Viktor Laiskodat hingga saat ini tidak jelas implementasi dan pengawasannya.

Hal yang sama menurutnya bisa terjadi di daerah lain. Bahwasannya beberapa program yang dicanangkan Gubernur Laiskodat tidak berjalan dengan baik karena kelemahan pemimpin di level top manajemen.

Oleh karena itu, warga Lusikawak, Kota Lewoleba ini meminta Gubernur Laiskodat agar di sisa masa jabatannya, sebaiknya memerhatikan beberapa program dan kebijakan yang dianggap gagal oleh masyarakat.

“Mau buat apa juga. Energi yang ada sebaiknya digunakan untuk memperbaiki yang gagal. Toh masa kepemimpinan tinggal kurang lebih setahun,” ujarnya.

Warga lainnya Eman Lega mengatakan, wacana Gubernur Laiskodat ini perlu dipikirkan matang-matang sebelum diterapkan. “Kalau KBM dimulai jam 05.00 maka wajib orang tua dan anak harus bangun minimal jam 4 dini hari,” kata Eman.

Ketua Ombudsman NTT, Darius Beda Daton menilai kebijakan itu seharusnya didiskusikan terlebih dahulu dengan komite dan orang tua siswa sebelum diterapkan sekolah.

“Perlu juga dipikirkan apakah pada jam 04.30, angkutan kota juga sudah beroperasi. Dipikirkan juga soal keamanan anak-anak pada jam itu,” tandasnya.

**Dikutip dari halaman berita nttexmediapress.com**

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *